Pantai Sadeng

posted in: Tempat Wisata | 0
Share ya

Dulu saat Sungai Bengawan Solo mengalir tenang dari hulunya di lokasi utara sampai bermuara di Pantai Sadeng yang saat ini ada di Kabupaten Gunung Kidul. Tetapi, empat juta taun yang silam, suatu sistem geologi berlangsung. Lempeng Australia menghujam ke bawah Pulau Jawa, mengakibatkan dataran Pulau Jawa perlahan terangkat. Arus sungai pada akhirnya tidak dapat melawan sampai pada akhirnya aliran juga berbalik ke utara. Jalur awal mulanya pada akhirnya tinggal jejak yang perlahan jadi kering lantaran tidak ada lagi air yang mengalirinya. Lokasi ini jadi kaya dengan bukit-bukit kapur yang berdasar sebagian riset, awal mulanya adalah karang-karang yang ada dibawah permukaan laut.

pantai-sadeng

Saat ini, bekas aliran sungai yang kondang melalui lagu keroncong berjudul Bengawan Solo ciptaan Gesang itu jadi tempat wisata menarik. Tidak ketinggalan Pantai Sadeng sebagai muaranya, tak hanya jadi tempat wisata juga jadi tempat pelabuhan perikanan besar di Yogyakarta. Keduanya jadi jejak geologi yang bernilai. Sekian waktu lalu, pernah diselenggarakan paket wisata menyusuri jalur Bengawan Solo Purba sampai muaranya.

Jalur aliran Bengawan Solo Purba dapat di nikmati pemandangannya. Jalur aliran itu dapat diliat setelah tiba di dekat plang biru bertuliskan ” Girisubo – Ibukota Kecamatan “. Berhenti sesaat di tepi jalur menuju pantai atau jalan perlahan yaitu cara paling pas untuk nikmati panorama bekas aliran ini, sekalian berikan peluang mengabadikannya dgn kamera.

Terlihat dua buah perbukitan kapur yang tinggi memanjang mengapit suatu dataran rendah yang awal mulanya yaitu jalur aliran. Dataran rendah yang saat ini jadi tempat berladang palawija masyarakat setempat itu berkelok indah, memanjang sejauh 7 km. ke arah utara, sampai lokasi Pracimantoro di Kabupaten Wonogiri. Kelokannya bikin mata tergoda untuk menyusurinya ke utara sampai ke area pembalikan aliran sungainya.

Jalur aliran juga dapat disusuri ke arah selatan sampai bekas muaranya di Pantai Sadeng. Menurut pembicaraan salah seseorang nelayan, muara Bengawan Solo Purba ada di pantai sebelah timur, lokasi yang saat ini terhitung areal pelabuhan perikanan. Meskipun seperti itu, penyusuran ke selatan tidak bakal seindah ke utara, karena jalur yang menuju ke Pantai Sadeng tak searah dgn jalur aliran sungai paling besar di Jawa itu.

Apabila sudah tiba ke pantainya, maka panorama tidak sama bakal ditemui. Lokasi pantai juga sudah alami pergantian, seperti jalur aliran yang saat ini jadi ladang-ladang masyarakat. Pantai Sadeng saat ini jadi pelabuhan perikanan di Yogyakarta yang paling maju, dapat dibuktikan dgn kelengkapan fasilitas pendukungnya, seperti perahu motor yang memiliki ukuran semakin besar, terminal pengisian bahan bakar, tempat tinggal pondokan nelayan sampai area pelelangan ikan serta koperasi.

Berkembangnya Sadeng untuk pelabuhan ikan juga mempunyai cerita sendiri. Kira-kira taun 1983, serombongan nelayan ikan dari Gombong, Jawa Tengah datang ke area ini. Mereka berasumsi Sadeng benar-benar punya potensi untuk area melaut. Tantangannya cukup berat, tidak cuma lantaran ombak laut selatan yang besar, namun juga keyakinan masyarakat setempat yang tidak memperbolehkan melaut serta lokasi pantai yang konon wingit.

Tetapi, satu diantara nelayan bernama Pairo yang dijumpai saya, mengungkapkan tentang nelayan Gombong kala itu berkeyakinan, ” Sopo Wae mlebu Sadeng Sedeng “. Artinya, siapapun berani tinggal di Sadeng bakal di beri kemampuan untuk hidup. Pada akhirnya, bertahanlah serombongan nelayan dari Gombong itu, sedikit untuk sedikit sampai hasil tangkapan ikan juga selalu meningkat serta mereka dapat bertahan hidup.

Pada sekitar taun 1986, didirikan area pelelangan ikan serta di bangun pelabuhan yang dilengkapi mercusuar untuk mensupport kesibukan perikanan. Kira-kira taun 1989, berdiri suatu koperasi untuk menunjang beberapa nelayan. Sampai pada akhirnya pada taun 1995, berdiri kantor yang mengurus hasil tangkapan ikan sekalian pondokan sama tempat tinggal petak yang dikontrakkan untuk beberapa nelayan.

Berkeliling ke penjuru pantai yaitu cara untuk nikmati perkembangan perikanan di Sadeng. Bakal terlihat sekelompok nelayan yang sedang bersihkan perahu, mengangkut ikan dari perahu ke area pelelangan, menggiling es batu untuk dimasukkan dalam kotak ikan sebelum saat didistribusikan, sampai ibu-ibu nelayan yang mengasuh anak-anak di pondokan. Semua warga pantai seakan repot dgn kesibukan perikanannya.

Diluar itu, dapat juga menyusuri bibir pantai di sebelah timur serta menuju gundukan pasir yang ada di dekat mercusuar. Panorama laut terlepas bakal terlihat jelas, beserta deburan ombaknya yang besar. Tidak seperti pantai di Gunung Kidul biasanya, Sadeng tidak banyak mempunyai karang-karang raksasa hingga pandangan mata tidak bakal terhambat. Terkadang, dapat juga disaksikan perahu nelayan yang tengah melaut.

Berkunjung ke Sadeng seperti melihat suatu sistem evolusi. Sepanjang perjalanan, dapat dikenang evolusi dataran rendah jalur aliran Bengawan Solo Purba dari area mengalirnya air sampai jadi ladang palawija yang produktif. Sesaat, berkunjung ke pantainya seakan kembali kenang pantai yang awal mulanya muara sungai jadi daerah sepi serta pada akhirnya berkembang jadi pelabuhan perikanan paling besar di Yogyakarta.

Alamat: Girisubo, Gunungkidul, Yogyakarta, Indonesia

Referensi Artikel : yogyes.com

Mau Booking Hotel, Cari Tiket Pesawat atau Kereta? Disini aja..

Leave a Reply